Selamat Datang di Website Departemen Agribisnis - IPB University

Agribisnis

Webinar Value Addition and Commodity Chain in Agribusiness

Departemen Agribisnis FEM IPB, Bersama PSP3 IPB, berhasil menyelenggarakan Webinar yang berjudul Value Addition and Commodity Chain in Agribusiness. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Oktober 2020 melalui zoom meeting. Acara yang dibuka oleh Prof. Nunung Nuryartono selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen ini dihadiri oleh 144 orang peserta yang berlatar belakang mahasiswa, dosen maupun agribusiness anhusiast. Webinar ini sangat special karena menghadirkan pembicara-pembicara internasional yaitu Prof. Edward Buckingham dari Monash University Australia, Prof. Shaun Coffey dari the crown fund Australia dan Prof. Song Soo Lim dari Korea University, South Korea dan dimoderatori oleh Dr. Suharno, dosen Departemen Agribisnis, FEM, IPB.

Prof. Edward menjelaskan mengenai nilai tambah buah Nangka dan bagaimana cara mendapatkan nilai tersebut. Banyak yang mengkonsumsi Nangka terutama di daerah, namun tidak banyak usaha untuk mengkomersialisasikannya. Untuk membuat bisnis buah Nangka menjadi lebih berkelanjutan, maka kita harus mengoptimalisasi biaya dan mendorong willingness to pay. Biaya dilihat sebagai supplier opportunity cost (SOC) yang dipengaruhi oleh genetika buah Nangka, tenaga kerja dan daya tahan produk sedangkan willingness to pay (WTP) dipengaruhi oleh penciptaan permintaan dan kepuasan subjektif. Hal tersebut bisa didukung dengan ilmu nutrisi sehingga WTP buah Nangka semakin tinggi. Secara keseluruhan, Prof. Edward menyatakan bahwa buah Nangka memiliki potensi yang besar namun perlu optimalisasi rantai pasok.

Masih membicarakan mengenai pangan, Prof. Song Soo Lim mempresentasikan mengenai Teknologi dan perdagangan pangan, kasus pada ramen Korea. Beliau menyebutkan bahwa permintaan global untuk mie instan dipimpin oleh China dan Indonesia. Ramen korea sendiri memiliki harga 10 kali lipat dibandingkan dengan mie instan local. Hal ini bisa terjadi karena kualitas yang premium, lebih sehat, terdiversifikasi dan merupakan produk impor. Bagaimana ramen diproduksi? Saat ini telah banyak inovasi pada produk Ramen, hal ini tidak terlepas dari adanya peran teknologi pada proses produksi. Teknologi memungkinkan ramen memiliki variasi bentuk, konten (misal low calorie) dan rasa. Selain pada ramen, teknologi juga berperan pada Teknik pengemasan. Di sisi lain, perdagangan ramen semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan perilaku konsumen seperti semakin diminatinya online shopping, kebutuhan akan produk yang higienis, serta bangkitnya ekonomi rumahan.

WhatsApp Image 2020-10-22 at 09.44.58 WhatsApp Image 2020-10-22 at 09.45.00 (1) 2 WhatsApp Image 2020-10-22 at 09.44.55 (2) WhatsApp Image 2020-10-22 at 09.44.55 (1) 1

Berbeda dengan kedua professor sebelumnya, Prof. Chaun Coffey menjelaskan mengenai Kepemimpinan yang Adaptif dalam Rantai Nilai Agribisnis. Beliau menyatakan bahwa beberapa tantangan kepemimpinan dalam rantai nilai antara lain membangun cara baru untuk menciptakan nilai, menciptakan bisnis model baru, mengganti peraturan kompetisi, mengikutsertakan supplier dan konsumen dalam menciptakan nilai. Pada masa pandemic seperti ini, banyak pihak yang terpengaruh terutama petani kecil. Di saat seperti inilah kepemimpinan yang adaptif sangat diperlukan.

Presentasi ketiga pembicara sangat menarik dan membuka wawasan. Meskipun disampaikan dalam Bahasa Inggris, para peserta terlihat antusias memberikan pertanyaan dalan sesi diskusi. Webinar diakhiri dengan pemberian sertifikat secara online dan foto bersama.

Senin, 26 Oktober 2020
Penulis: Triana Gita Dewi, SE, M.Si, M.Sc / Departemen Agribisnis FEM IPB